Bank Sentral Didesak Pertahankan Kebijakan Uang Longgar

Jum’at, 06 November 2009

Kerja sama bank sentral dan pemerintah dalam menahan krisis mungkin akan tunduk pada tekanan politik. Mereka bisa menunda kebijakan moneter ultralonggar yang memicu risiko inflasi dan lonjakan spekulatif.

BERHADAPAN dengan krisis terburuk, bank sentral mulai mencari alternatif menaikkan suku bunga dan mengakhiri langkah darurat. Saat ini perdebatan tentang bagaimana dan seberapa cepat melakukan hal itu seiring ekonomi global mulai keluar dari pelemahan terburuk.

Banyak pemerintah sekarang mengeksploitasi ketidakpastian ekonomi dan menekan bank sentral menahan kebijakan moneternya. Pemerintah takut pengetatan akan mengancam pemulihan dan meningkatkan pembiayaan defisit yang membengkak akibat belanja stimulus. ”Tingkat keparahan krisis ini dan pengalaman kesalahan Amerika Serikat (AS) dan Jepang yang melakukan pengetatan terlalu dini di masa lalu membuat pemerintah meminta bank sentral tidak mengulangi kesalahan itu,” kata senior strategi Newedge Group Kirby Daley di Hong Kong.

”Masih besarnya ketidakpastian dan realitas pemulihan saat ini, bank-bank sentral akan lebih cenderung untuk berbuat kesalahan dengan mempertahankan kebijakan moneter longgar dalam jangka waktu yang lama.” Inflasi masih sangat rendah di kebanyakan tempat, tapi tandatanda pemulihan mulai muncul. Pasar saham terjadi reli, harga energi dan komoditas naik, dan ekonomi di Brasil,China,India,dan negara berkembang lainnya mulai rebound.Minggu lalu saham global sudah pada posisi tertinggi dalam satu tahun. Harga rumah juga meningkat di Hong Kong, Korea Selatan (Korsel),dan Australia.

Banyak pemerintah bersikeras segera membatalkan keadaan darurat ekonomi dan meminta bank sentral mengikuti langkah Australia yang mengakhiri kebijakan moneter ultralonggar.Yang merasakan suasana tidak enak ini bank sentral. Koordinasi antara bank sentral dan pemerintah melemah, terutama di Asia. Bank Sentral Jepang dan Korea Selatan baru-baru ini mengeluarkan kebijakan yang mengejutkan, mengumumkan langkah pengetatan. Kebijakan ini muncul bersamaan dengan peringatan pemerintah bahwa langkah pengetatan moneter akan mengancam pemulihan yang masih rapuh.

Di India, bank sentral diharapkan mempertahankan suku bunga acuan untuk mendukung kebijakan propertumbuhan.Perubahan kebijakan baru bisa dilakukan jika pemulihan penuh sudah dapat diamankan. Negara-negara yang bertindak kurang agresif selama krisis akan lebih mudah mengembalikan ekonomi pada kondisi normal. ”Sementara negara maju seperti AS harus mengalami perbaikan yang perlahan,”ucap kepala ekonom Asia Societe Generale Glenn Maguire. Kebijakan ultralonggar diharapkan berlaku hingga beberapa tahun ke depan, termasuk di Jepang,

Zona Euro, dan Inggris. Analis memperkirakan ada kerja sama erat antara bank sentral dan pemerintah dalam perpanjangan paket penyelamatan hingga waktunya menerapkan exit strategy. Namun, baik bank sentral maupun pemerintah masih belum ada kesepakatan soal kapan waktu yang tepat menerapkan exit strategy.

”Koordinasi global menyangkut kebijakan ditujukan menghadapi krisis sudah dilakukan sejak awal dan dipimpin pemerintah,” tutur Insung,ekonom Samsung Economic Research Institute di Seoul.

Sumber : http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/281961/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: